Perjalanan setelah pengabdian.
Hari itu, debu jalanan berpadu dengan keringat dan senyum tulus anak-anak pelosok yang menyambut kedatangan kami di Gerakan Sumut Mengajar. Saat saya menatap mata mereka yang berbinar di balik buku-buku usang, terselip sebuah kejujuran yang menampar batin saya: bahwa keterbatasan geografis tidak pernah mampu memadamkan api mimpi.
Ada satu momen yang takkan pernah lekang; seorang anak kecil menarik ujung jilbab saya, menyerahkan secarik kertas lipat lusuh berisi tulisan tangan yang terbata-bata, "kak, kelak kalau aku besar, aku ingin jadi orang yang bermanfaat seperti kakak." Seketika, lelah perjalanan berjam-jam dan beratnya tantangan medan seakan menguap, berganti dengan air mata haru yang tertahan.
Perjalanan membersamai Gerakan Sumut Mengajar bukan sekadar tentang membagikan ilmu di ruang-ruang kelas terpencil. Lebih dari itu, merekalah anak-anak luar biasa itu yang justru mengajari saya tentang arti ketulusan, rasa syukur, dan kemurnian sebuah harapan. Bahwa pendidikan bukan hanya perihal mengisi kepala, melainkan tentang menyalakan pelita di dalam jiwa agar mereka berani merajut masa depan yang lebih terang.
Umi.. Ayah.. Terimakasih telah percaya bahwa kakak bisa bergerak lebih banyak lewat Gerakan ini... Alfaatihah untuk kedua orang tuaku tercinta ❤